5 Pemimpin Diktator yang “Dieksekusi”


Diktator adalah seorang pemimpin negara yang memerintah secara otoriter dan biasanya melakukan penindasan terhadap rakyat dan lawan politiknya. Biasanya seorang diktator naik takhta dengan menggunakan kekerasan, seringkali dengan sebuah upaya kudeta. Dan mereka pun lengser dengan tidak terhormat, banyak yang dieksekusi mati dengan intervensi negara asing. Berikut uniknya.com himpun 5 diktator yang kekuasaannya diakhiri dengan “dieksekusi”:

1. Benito Mussolini 
Benito Mussolini adalah seorang diktator Italia yang menganut Fasis. Ia adalah diktator Italia pada periode 1922-1943. Ia dipaksa mundur dari jabatan Perdana Menteri Italia pada 28 Juli 1943 setelah serangkaian kekalahan Italia di Afrika pada Perang Dunia II melawan Sekutu. Setelah ditangkap, ia diisolasi. Dua tahun kemudian, ia dieksekusi di Como, Italia utara. Mussolini mengakhiri sebuah dekade pemerintahan diktator seperti di Jerman yang dilakukan Adolf Hitler dengan Nazi-nya.

Benito Mussolini (Sumber: asset-cache.net)

2. Nicolae Ceaucescu 
Nicolae Ceaucescu adalah politikus Rumania yang menjadi sekjen Partai Komunis Rumania dari 1965 hingga 1989, Presiden Dewan Negara dari 1967, dan Presiden Rumania dari 1974 hingga 1989.

Nicolae Ceaucescu (Sumber: bistritanews.ro)

Awal kekuasaannya sebagai presiden Rumania ditandai dengan kebijakan terbuka terhadap Eropa Barat dan Amerika Serikat, yang berbeda dengan negara-negara Pakta Warsawa lainnya selama Perang Dingin. Dekade kedua kekuasaan Ceauşescu berciri meningkatnya pemujaan kepribadian dan hubungan yang memburuk dengan negara-negara Barat dan Uni Soviet. Rezim Ceauşescu dijatuhkan pada Desember 1989, oleh gerakan people power. Bersama dengan istrinya, Nicolae Ceauşescu dihukum mati.

3. Saddam Hussein
Saddam Hussein adalah Presiden Irak pada periode 16 Juli 1979 hingga 9 April 2003. Sebagai pemimpin Irak dan ketua Partai Ba’ath, ia mengambil kebijakan pan-Arabisme sekuler, modernisasi ekonomi, dan sosialisme Arab. Sebagai presiden, Saddam menciptakan pemerintahan yang otoriter dan mempertahankan kekuasaannya melalui Perang Iran-Irak (1980–1988) danPerang Teluk (1991).

Saddam Hussein (Sumber: blogspot.com)

Saddam digulingkan dalam invasi Irak 2003 yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan ditangkap oleh pasukan-pasukan AS pada 13 Desember 2003. Pada 5 November 2006 Hakim Ketua Rauf Rasheed Abdel Rahman menjatuhkan hukuman mati dengan cara digantung kepadanya atas kejahatan terhadap umat manusia.

4. Muammar Qaddafi 
Muammar Qaddafi adalah penguasa otokratis de facto Libya dari 1969 sampai 2011, setelah merebut kekuasaan dalam kudeta militer. Setelah berhasil merebut kekuasaan, Qaddafi mulai menghilangkan oposisi dan kehidupan warga Libya menjadi dibatasi.

Muammar Qaddafi (Sumber: axisoflogic.com)

Sebagai hasil dari perang saudara Libya akibat dampak “The Arab Spring” terbentuklah Dewan Transisi Nasional (NTC). Kekuasaan Qaddafi semakin tergerus dengan pengakuan domestik dan internasional terhadap NTC. Pada 23 Agustus 2011, Qaddafi kehilangan kendali Tripoli ketika para pemberontak menangkap loyalisnya di Bab Al-Azizia. Pasukan loyalis Qaddafi berperang di lokasi yang terbatas.
Pada tanggal 20 Oktober 2011 Qaddafi telah ditangkap di kota kelahirannya, Sirte. Menurut Pejabat tersebut NTC, Qaddafi dilaporkan meninggal karena terluka parah pada kedua kaki dan kepalanya. Namun beberapa sumber menyebutkan Qaddafi mati karena dieksekusi.

5. François Duvalier
François Duvalier yang dikenal sebagai “Papa Doc” adalah Presiden Haiti dari1957 dan belakangan diktator (Presiden seumur hidup) sejak 1964 hingga kematiannya. Pemerintahannya ditandai oleh otokrasi, korupsi, dan penggunaan tentara pribadi untuk mempertahankan kekuasaannya.

François Duvalier (Sumber: wikia.com)

Di dalam negeri, Duvalier menggunakan pembunuhan politik dan pengusiran untuk menindas lawan-lawannya. Diduga hingga 30.000 orang yang terbunuh. Serangan-serangan terhadap Duvalier dari dalam militer sendiri dianggap sangat serius. Pada 1967 bom-bom diledakkan dekat Istana Kepresidenan, sehingga 20 perwira Pengawal Istana dihukum mati. Taktik-taktik seperti ini membuat negara berada di dalam cengkeramannya hingga kematiannya pada awal 1971, sampai anaknya yang berusia 19 tahun Jean-Claude Duvalier kemudian menggantikannya. Pada 1986, 15 tahun setelah kematiannya, kerangka Duvalier digali dan secara ritual dipukuli hingga “mati”.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar